KKL punya cerita


Assalam mu’alaikum yaa ukhtii wa akhiii! Hihii..

Siapapun yang lagi baca cerita ini semoga ada manfaatnya 😀

Tujuan menulis : Hanya bercerita, karena saya khawatir jika suatu hari daya ingat saya melemah dan memori-memori indah ini terlupakan. Oleh karena itu saya tuangkan disini dengan harapan cerita ini akan terkenang sampai kapanpun.

Sebelum saya bercerita panjang lebar tentang pengalaman aneh bin ajaib bin mengharukan bin agak lebay saya selama tiga minggu di Badan Narkotik Nasional (BNN), saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang kegiatan apa yang akan saya ceritakan di posting kali ini. Saya adalah mahasiswi semester VII menjelang VIII Fakultas Psikologi salah satu perguruan tinggi di daerah Jak-ping-sel (Jakarta pinggiran bagian selatan tepatnya di ciputats), di fakultas kami memiliki persyaratan syar’i bagi yang ingin menyusun skripsi, yaitu kami harus terlebih dulu menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL) sesuai dengan bidang peminatan psikologi yang kami pilih. Setelah tiga tahun menjalani kuliah secara materi di kelas, kami harus belajar langsung di lapangan selama tiga minggu sampai satu bulan, dan kami-kami yang memilih KKL di BNN ini adalah mahasiswa bidang peminatan Klinis. Begitu gambarannya, sekarang saya akan memperkenalkan sister-sister yang selalu berada disamping saya tiga minggu kemarin.

(Farah, Anya, Kiki, Nung, Imas, Aya, Anne, Afit)

Foto diatas adalah tim saya selama di KKL di BNN. Yes, we’re sister each other! Dari susah sampai seneng bareng, dari ketawa sampai seng-cok (senggol-bacok) lengkap deh di tim kami selama KKL disana, secara selama disana banyak stressor yang menghampiri jiwa-jiwa kami (hehe bahasanye). Iya bener, secara pribadi bukan hal yang mudah KKL disana. Bener kata dosen pembimbing kami kalau memutuskan KKL disana kami juga harus mempersiapkan mental dan fisik yang tangguh (selain harus mempersiapkan biaya yang lebih dari kelompok KKL lainnya yah hehe tapi bermanfaat banget kok hasilnya! Gak nyeseel). Jam kerja kami disana cukup memforsir energy fisik dan mental, selain jam kerja yang dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam (belum lagi disela-sela kegiatan kita harus berpikir untuk melakukan hal-hal yang sekiranya dapat bermanfaat bagi residen) disana setiap hari kami bertemu dengan orang-orang berlatar belakang permasalahan yang realy complicated, butuh super duper ekstra berjiwa positif biar gak cuma capek otot dan otak tapi juga bisa belajar banyak dari mereka dan berperan positif juga bagi mereka (yah itulah resiko memilih profesi sebagai calon psikolog, but I realy love this work!). Kira-kira gambaran kegiatan kami disana seperti ini:

Pagi – siang : kita ikutin kegiatan mereka dari acara Morning meeting residen (ritual pembuka hari dengan belly chek feeling mereka sebelum memulai hari), function (kalau dikita disebutnya piket/bersih-bersih rumah gitu), ada Nicotine break (waktu merokok bersama in one spot), Dinamic Group, dsb terus ke Ruang Psikologi untuk shalat, makan siang, dan siap-siap terjun ke mereka lagi.

Siang : ada fase yang kegiatannya Siesta (tidur siang), ada juga yang Dinamic Group (kita ngasih seminar), pas mereka pada shalat ashar jama’ah kita pulang ke kamar buat shalat, lurusin tulang dan sendi-sendi sebentar di kasur, terus jam 4 nya kita balik lagi ke fase masing-masing sesuai tugas (ada yang kasih games, dynamic group, atau psikotest).

Sora – malam : pulang kamar lagi shalat magrib, mandi, makan malam, siap-siap lagi brancuts berpencar ke tugas masing-masing ikutin kegiatan mereka sampai Wrap-up/Reflection (ritual penutupan sebelum closing dengan kegiatan merangkum feeling mereka seharian itu, hal apa aja yang udah bisa dicapai/dilakukan hari itu, dan memastikan mereka menutup hari dengan good feeling).

Seru deh pokoknya! Disana kehidupannya teratur sekali (umm, jadi kangen waktu di pesantren dulu.. ternyata hidup teratur secara bersama-sama itu enak yaa.. lebih jelas.. lebih bermakna aja rasanya, gak banyak waktu kebuang sia-sia dengan hal-hal yang gak jelas) ternyata lingkungan sangat mempengaruhi yah, disana saya bisa ikutan hidup teratur karena lingkungan disekitar saya juga teratur, tapi begitu nyampe rumah *blank!* susah banget mau praktekin kayak disana karena kegiatan yang harus dilakukan juga berbeda.

Emm.. kalau diatas udah saya ceritakan gambaran kegiatan saya disana dalam hal-hal formal, sekarang saya mau berbagi cerita tentang kegiatan yang gak formal nya yah.. cerita yang aneh bin ajaib bin limited edition ehehe dibagian cerita ini bisa jadi agak lebey tapi paling berkesan (menurut saya) Let’s check it out! 🙂

Hari pertama sampai di BNN, perasaannya deg-deg-an campur rasa kagum. Kenapa deg-deg-an? karena tempatnya sangat asing buat saya, ditambah lagi waktu pertama datang saya lihat segeromolan laki-laki yang lagi duduk rapi dengan kaos dan model rambut yang sama (cepak) mereka lagi morning meeting kayaknya, dan kenapa kagum? karena tempatnya bersih sekali, nuansa putih dan rapi. suka J

Jujur aja nih ya, pertama datang kesana saya takuut.. karena saya masih terpengaruh stigma negatif kebanyakan masyarakat. Selain mereka junky yang udah make obat-obatan terlarang selama tahunan, hampir dari semuanya pernah melakukan tindak kriminal bahkan ada yang sampai pernah dipenjara. Tapi untungnya dibalik rasa takut itu, saya mempunyai banyak rasa ingin tahu apa latar belakang mereka sampai bisa terjerumus ke obat-obatan jahat itu, sehingga cukup membantu mentralisir perasaan takut saya. Saya membulatkan niat saya hari itu juga untuk berani dan berpikir positif, bahwa saya akan belajar banyak hal dari mereka (yang sebagian orang menyebutnya sampah) dan saya juga akan berbagi ilmu saya yang masih sedikit ini namun semoga bermanfaat. Itu yang selalu saya camkan dalam otak dan hati saya setiap hari sebelum mulai kegiatan.

Sore harinya kami diantar oleh salah satu tim psikologi disana (mas Rizal) untuk melakukan kegiatan orientasi, pengenalan tempat-tempat kegiatan kami disana. Malamnya kami beres-beres barang bawaan terus istirahat.

Hari kedua, pembagian kelompok dan fase tempat kami  bertugas (belajar). Satu kelompok terdiri dari dua sampai tiga orang, kami bersembilan dibagi dalam empat fase. Dan kelompok saya terdiri dari tiga orang (horre!). Setelah kelompok terbagi, kami langsung terjun ke lapangan sesuai fase masing-masing. Kelompok saya terdiri dari saya, Anya, Imas. Setelah pembagian, berjalanlah kami menuju fase masing-masing. Saat datang ke fase kami (Entry unit) ini adalah pertama kalinya kami bertemu mereka dan memperkenalkan diri. Keadaan waktu itu tegang banget meen, mereka kan cowo semua, maklum kalau kami grogi berats. Kita sampai sana pas pertengahan kegiatan Morning meeting, kita langsung communicate sama mayor (sebutan untuk konselor yang bertugas hari itu di tiap fase) bilang mau bergabung di kegiatan Entry unit. Karena kita orang baru otomatis kita harus memperkenalkan diri terlebih dahulu dan juga menjelaskan tujuan kita ada disitu. Dan eng ing eeeng~ dari sorotan mata Anya dan Imas menunjukkan kalau “lo aja ras yang ngomong!” hahaha apes.. kaget dan gak mau sebenernya, tapi gimana lagi? waktu anda tidak banyak ras! hehehe walhasil perkenalan yang tanpa persiapan itu menjadi sangat bodoh dan memalukan almamater, kahkahkahkah!  Kenapa memalukan? jadi gini ceritanya, saat pertama kali datang di BNN kami disambut oleh orang-orang BNN nya, mereka memberi sambutan dimulai dengan mengucapkan “Assalammu’alaikum, selamat siang. Salam sejahtera bagi kita semua..” karena di BNN ini kan terdiri dari beragam latar belakang suku dan agama jadi ada kalimat salam sejahteranya, gitu yah kalau saya gak salah inget. Jadilah saya terngiang dengan ucapan itu, dan spontan  saya jadi ikutan ngomong gitu saat saya memperkenalkan diri di depan penghuni Entry unit. Tapi.. bodohnya.. karena grogi.. ‘assalammu’alaikumnya’ ketinggalan dong!! saya cuma bilang gini “Salam sejahtera, selamat pagi family! bla bla..” jelas-jelas saya pakai kerudung dan dari UIN! hahahaha waktu itu saya nangkep ekspresi bingung tapi memaklumi dari mereka karena mereka tau banget kalau kita grogi hahaha sampai ada yang bilang “selow aja sist, gak usah pake goyang haha” bah! ketawan banget lagi groginya yah, sampai gestur kita gak bisa diem. Kalau diinget-inget saya malu sendiri deh, kenapa bisa gitu yah?! kenapa jadi salam sejahtera doang?! pelajaran banget pokoknya 😀 (ini salah satu kasus aneh bin ajaib dari kami)

Kasus aneh bin ajaib lainnya, ntar disambung yah.. segini dulu ceritanya. Ada yang harus saya kerjakan dulu soalnya. Bye family! hihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s