Keheningan yang Mengubah


Marilah kita belajar dari metamorfosa seekor kupu-kupu!

Kita pasti pernah melihat kupu-kupu. Indah bukan? Dan kita Β tahu, ia tidak lahir dengan keindahan. Setelah telur menetas, awalnya ia adalah seekor ulat. Dilihat wujudnya, ulat tidak menyenangkan. Disentuhpun, orang akan kegatalan karenanya. Yang lebih mengesan pada ulat, dan ini jarang direnungkan oleh orang, yaitu bahwa ulat adalah binatang yang merusak tanaman. Bukan hanya dirusak, banyak tanaman yang mati karenanya. Ulat membuat mati tanaman mulai dari daun, batang, sampai bunganya. Bahkan buahnya, kalau ada ulatnya, membuat orang malas untuk mengunyah. Bukan malas, sebenarnya, tapi jijik.

Tepat pada saatnya, ulat itu kemudian menarik diri. Dia akan membangun sebuah rumah khusus untuk menyembunyikan dirinya. Seakan menyesali perbuatannya, ulat itu sekarang tidak pernah makan. Ulat itu berpuasa. Ia menjadi kepompong. Sesungguhnya pada saat semacam itu, ulat itu sedang membentuk dirinya. Semesta berkenan dengan apa yang dilakukan sang ulat. Selain di dalam sana ada sayap-sayap yang tumbuh, semesta juga memberikan lukisan yang bagus pada ulat-ulat itu.

Sekali lagi, tepat pada waktunya, ulat itu keluar. Namun ia tidak lagi menjijikkan. Ia membawa pertobatan yang agung. Tubuhnya tidak lagi membuat orang jijik. Dia tidak lagi berkutat untuk merusak. Apa yang dimakannya adalah sesuatu yang manis, madu semata dan sekali lagi, menariknya, kupu-kupu tidak merusak apalagi mematikan. Justru memberikan kehidupan. Ia membantu penyerbukan pada tanam-tanaman yang disinggahinya.

Tahukah kita?

Seandainya ulat tidak mau menyepi, tidak mau menyembunyikan dirinya sendiri, tidak mau berdiam, ia selamanya akan tetap menjadi seekor ulat yang menjijikkan. Ia akan tetap dijauhi oleh manusia. Ia akan tetap menjadi perusak tanaman. Dengan demikian, selamanya ia akan menjadi musuh bagi makhluk yang lain. Bahkan, seandainya tumbuhan bisa menolak, dia pasti akan ditolak oleh tumbuhan. Dan betapa menyakitkan menjadi makhluk yang selalu ditolak.

Sekarang, kita masih boleh berandai-andai, cobalah kita bayangkan, seandainya ketika kepompong si ulat ingin cepat-cepat keluar, ia tidak akan dapat terbang karena sayapnya belum pernah selesai dibentuk. Dia tidak akan pernah sepenuhnya menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Ia akan dianggap produk gagal.

Renungan kita…

Tentu kita ingin menjadi kupu-kupu yang cantik, bukan? Ambillah waktu hening sejenak untuk bermetamorfosa! Keinginan untuk menjadi cantik adalah sebuah keinginan yang sederhana. Keinginan untuk menjadi cantik adalah keinginan untuk menjadi lebih baik. Lihatlah kupu-kupu, dan mari kita belajar dari padanya, dalam segala segi binatang tersebut mengalami metamorfosa: tubuhnya, sifatnya, sikapnya, pekerjaannya, dan lain-lain. Jelasnya, hidupnya berubah. Dan karena hidupnya berubah, semesta memandangnya secara berbeda pula.

Sering kali kita merasa putus asa, dapatkah hidup kita lebih baik? Yakinlah, kalau binatang saja bisa, kita pun bisa! πŸ™‚

sumber: Herou

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s